Sabtu, 02 September 2017

Penggunaan To atau Ken (Pedang Jepang)

Secara historis kaum samurai adalah pemanah berkuda meski banyak orang mengira bahwa pertempuran antar samurai pada jaman pra restorasi Meiji  didominasi dengan pedang.  Namun fakta yang kita dapat dari hikayat kuno (gunkimono) dan lukisan kuno menunjukan bahwa pertempuran lebih banyak didominasi dengan menggunakan senjata panjang seperti panah dan bermacam – macam jenis tombak.  Lantas bagaimana pedang mencapai posisi penting dalam peperangan jaman kuno di Jepang? Tidak lain karena fungsi pedang adalah untuk memotong leher, tradisi memotong leher ini dipergunakan untuk perhitungan bukti kemenangan pertempuran, yang lehernya dipotong pada umumnya adalah samurai kelas perwira hingga panglima, dalam artian memang samurai yang memiliki posisi penting yang menjadi target. Pemotongan leher tidak selalu dalam kondisi korban masih hidup melainkan juga pada saat korban sudah mati.



Pada jaman dahulu samurai mempersenjatai dirinya dengan senjata balistik (panah) atau senjata panjang (yari, naginata atau nodachi), selain itu mereka juga mempersenjatai diri dengan pedang (tachi atau katana) dan pisau. Apabila senjata balistik sudah tidak memungkinkan maka  mereka baru mempergunakan pedang. Apabila senjata panjang sudah tidak dapat digunakan maka mereka menggunakan pedang. Jika pedang milik mereka sudah tidak berguna maka mereka menggunakan pisau atau teknik tangan kosong untuk mengambil atau merebut pedang yang baru dari lawan atau pedang yang jatuh di sekitar mereka.

 
Kalau kita bandingkan dengan senjata modern, panah ibaratnya adalah senapan mesin sedangkan tombak biasa atau yari adalah senapan, nodachi adalah shotgun dan pedang adalah pistol.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.