Minggu, 05 Februari 2017

Disclaimer

DISCLAIMER
Sehubungan kami lihat ada pihak - pihak yang tidak berkepentingan menggunakan nama Bujinkan atau Togakure Ryu atau nama Soke Masaaki Hatsumi demi kepentingan pribadi maupun golongan. Maka kami perlu mengeluarkan stateman ini.
Segala bentuk tulisan, terjemahan, saduran, gambar - gambar baik bergerak maupun tidak bergerak yang ada dalam media elektronik milik Bujinkan Indonesia atau Bujinkan Togakure Ryu Indonesia adalah hak kekayaan intelektual dari Bujinkan Dojo secara umum dan khususnya Bujinkan Indonesia serta affiliasinya dan dapat dikenakan penuntutan hukum bagi yang menggunakan tanpa ijin.
Bujinkan Indonesia tidak bertanggung jawab atas segala akibat penggunaan tanpa hak oleh pihak lain yang tidak terafiliasi dengan kami.

TTD

Pengurus Pusat Bujinkan Indonesia

Rabu, 09 November 2016

Atemi Tanren

Atemi No Tanren atau Atemi Tanren merupakan salah satu pelajaran dalam Bujinkan yang bersumber pada Koto Ryu Koppojutsu. Kalau anda sebagai orang luar atau mungkin siswa Bujinkan yang baru berniat mendalami Koto Ryu anda akan menemukan bahwa secara instruksional tertulis atemi no tanren adalah latihan memukul benda mati bisa makiwara, sansak untuk adaptasi modern atau benda alam seperti latihan dalam Shinden Fudo Ryu. Atemi adalah teknik memukul dengan tangan dan kaki bukan merujuk pada mekanik tubuh saja melainkan juga pada senjata pemukul atau bagian tubuh yang digunakan misal kento atau kepalan tangan yg dalam bujinkan populer disebut fudo ken. Tanren terdiri padi aksara Tan (鍛) yang berarti disiplin, menempa dan Ren (錬) yang berarti menjadikan suatu bentuk, menggubah. Dengan demikian Tanren bermakna latihan dengan menggunakan tubuh pikiran dan rasa untuk menjadikan suatu bentuk. Dalam hal Atemi Tanren maknanya adalah latihan atau menempa tubuh pikiran dan rasa agar memahami atemi atau alat memukul.
Merujuk diskripsi tersebut atemi tanren bukan semata - mata memukulkan tubuh pada suatu sasaran karena latihan memukul makiwara adalah pada level Kihon. Soke pernah mengatakan bahwa dasar dari semua Kihon adalah Kiso, bisa dikatakan jika Kihon adalah pondasi bangunan maka kiso adalah tanah dan urugan tanahnya. Apa yang disebut kiso ini adalah Ryutai Undo atau Latihan Tubuh Naga, Mokuso atau Meditasi, dan Kokyuho atau teknik pernapasan. Orang yang memahami kiso akan mendapatkan kihon yang baik.
Ganbatte
Bud Martadi

Selasa, 18 Oktober 2016

Takagi Yoshin Ryu

Gaya seni beladiri Takagi Yoshin Ryu diciptakan oleh Takagi Oriemon seorang samurai pada jaman Edo. Latar belakang berdirinya gaya ini adalah peristiwa pembunuhan terhadap ayahnya yaitu Takagi Sanzaemon yang tewas diserang pada malam hari. Sanzaemon adalah seorang ahli seni pedang pada Shiraishi domain. Setelah kematian ayahnya Takagi Oriemon berusaha keras untuk membalas dendam dan selalu menginggat ajaran sang ayah “ pohon willow memiliki sifat yang kuat sedangkan pohon tinggi (takagi) sifatnya lemah”
Pada tahun 1645 pada usia 16 tahun Oriemon berhasil menamatkan pelajaran Amatsu Tatara Rinpo Hiden dari Itto Kii No Kami yang merupakan penerus dari tradisi Amatsu Tatara yang diturunkan oleh praktisi Tao yang bernama Unryu. Berdasarkan Amatsu Tatara dan ajaran sang ayah Takagi Oriemon memformulasikan suatu gaya seni beladiri baru yang ia namai Takagi Yoshin Ryu.
Dalam perkembanganya Takagi Yoshin Ryu terpecah menjadi beberapa cabang silsilah dan salah satunya diwarisi oleh Masaaki Hatsumi Sensei.
Banyak yang mengenal Takagi Ryu sebagai Jutaijutsu atau jujutsu, namun sejatinya gaya Takagi juga meliputi seni persenjataan yaitu Iaijutsu dengan menggunakan daisho, tongkat pendek, tombak, nawanage, jutte dan sebagainya.

Rabu, 24 Agustus 2016

Dojo Kun / Dojo Etiket

Dojo Kun / Dojo Etiket
Hadir dengan mengutamakan kesabaran. Memahami bahwa ketahanan itu sesederhana kepulan asap.
Memahami bahwa kemanusiaan adalah akibat dari keadilan. Memahami bahwa jalan kemanusiaan adalah keadilan.
Lupakan keinginan, lupakan kemudahan, lupakan ketergantungan pada orang lain.
Memahami bahwa kesedihan dan kekhawatiran adalah alamiah dan terus mencari semangat yang tak tergoyahkan.
Tidak menjauhkan diri dari kesetiaan dan persaudaraan dan selalu merenungkan semangat Budo.

Toda Shinryuken Masamitsu 1891
Soke XXXII Togakure Ryu

Poin 1 adalah arahan bahwa para praktisi wajib mengutamakan kesabaran pada saat menghadiri latihan dengan demikian dia bisa menerapkan kesabaran dalam kehidupan sehari - hari. Kesabaran dalam Togakure Ryu merupakan konsep yang sederhana seperti kepulan asap, bisa terlihat pekat di depan mata, tak bisa dipegang namun bisa dirasakan.
2. Keadilan memunculkan adanya peradaban, suatu peradaban yang ideal dalam hati tiap insan adalah peradaban yang berdasar pada keadilan yang sifatnya universal. Untuk bisa membangun keadilan yang sifatnya universal idealnya manusia mencapai kesadaran universal.
3. Dalam kehidupan manusia keinginan sering kali membaur dengan kebutuhan. Bahkan banyak orang yang tidak bisa membedakan antara kebutuhan dengan keinginan. Hal ini yang sering kali menjadi sumber pertikaian dan keterpurukan. Lupakan kemudahan artinya jangan menganggap enteng segala hal. Dalam latihan seringkali kihon dianggap remeh padahal kihon yang bisa membawa praktisi kepada penguasaan teknik. Seorang Shinobi adalah seorang ahli strategi yang memiliki kepekaan dan penguasaan idealnya seorang shinobi adalah mengayomi bukan tergantung kepada orang lain.
4. Kesedihan maupun rasa khawatir adalah hal yang alami dalam kehidupan, ini merupakan proses latihan jiwa, idealnya seorang shinobi atau budoka tidak berlarut dalam kesedihan maupun kekhawatiran sehingga tercapai pengertian mengenai semagat yang tak tergoyahkan atau fudoshin.
5. Tidak menjauhkan diri dari kesetiaan, yaitu kesetiaan pada leluhur,pada negara, pada keluarga, pada jalan keadilan, pada keadilan universal alam semesta. Dan juga kesetiaan pada persaudaraan dalam Bujinkan dojo. Senantiasa merenungkan semangat budo, semangat budo adalah semangat prajurit, seorang prajurit pada saat bangun pagi sudah siap dengan segala kemungkinan yang dihadapi, meski kemungkinan itu adalah pertaruhan nyawa. Seorang prajurit juga merupakan pengayom bagi orang disekitarnya, motivator bagi orang disekitarnya. Jadi yang dimaksud di sini meski kita tidak berprofesi sebagai seorang militer akan tetapi memiliki jiwa dan batin seorang prajurit. Terlebih apabila militer dan penegakan hukum adalah profesi kita hendaknya bisa semakin lebih baik dengan berbekal semangat dari Bujinkan.

Dialih bahasa oleh Prisotya Martadi, Bujinkan Indonesia Dojo Cho

Selasa, 23 Agustus 2016

Ninja


Ninja berasal dari aksara Nin yang sebenarnya merupakan penyandian dari tiga aksara pada Jaman Pangeran Shotoku Taishi yaitu Shi (Pelaku), No (ahli) dan Bi (informasi) yang bila digabung berarti orang yang ahli mengolah informasi. Pada sumber lain yaitu kitab Sun Tzu, mata - mata disebut dengan sebutan Kan atau Chen. Aksara Kan memiliki makna celah yang ada diantara dua tirai pada ventilasi. Makna dari Kan adalah orang yang mampu menyusup lewat celah ventilasi untuk mengetahui rencana musuh.
Sebutan “Ninja” di Jepang termasuk sebutan yang modern yang dipopulerkan melalui pertunjukan Kabuki. Pada masa Sengoku orang menyebut ninja dengan berbagai macam sebutan yaitu :
Shinobi : penyusup
Kusa : rumput atau orang yang menyamar sebagai rumput
Kamari : Pencegat atau orang yg bersembunyi guna melakukan serangan mendadak. (Raider)
Suppa : pencari informasi dan menemukan suatu (semacam detektif)
Rappa : orang yang menyebar info palsu (agen provokator)
Toppa atau Tsupa : pengantar pesan (caraka)
Denugi : ahli siasat atau strategi
Ukamibito : orang yang menyamar jadi kawan
Homen : penghianat yang dilepas untuk memata-matai musuh. Biasanya interogator yang melepaskan Homen juga menguasai ninjutsu.

Berbeda lagi sebutan ninja pada masa Tokugawa yang merupakan masa damai :
Shinobi : penyusup
Onmitsu : yang diam dan penuh rahasia
Koga Mono : Orang dari Koga
Iga Mono : Orang dari Iga
Negoroshu : Orang dari Negoro yang ahli menggunakan senapan.
Saikato : Senjata atau prajurit dari Saika
Hayaashi gumi : caraka pelari cepat.
Dan lain-lain

Ada juga tipe ahli ninjutsu yang mempunyai otoritas karena mereka bagian dari kelas Samurai, orang-orang ini disebut Metsuke, yang bertugas selayaknya diplomat, negosiator, sekaligus polisi rahasia.
Inti dari sebutan-sebutan diatas adalah untuk menyebut orang yang memiliki dan mengembangkan kemampuan tempur yang tidak lumrah.
Sehingga pada akhirnya para seniman kabuki memberikan sebutan “Ninja” untuk menggeneralisasi sebutan-sebutan di atas.