Kamis, 22 Juni 2017

bujinkan indonesia: PROFESIONALISME BUDOKA

bujinkan indonesia: PROFESIONALISME BUDOKA: Untuk menjadi Profesional seorang Budoka wajib : a.        Kompeten, seorang Budoka wajib untuk kompeten untuk belajar dan berlatih u...

PROFESIONALISME BUDOKA



Untuk menjadi Profesional seorang Budoka wajib :
a.       Kompeten, seorang Budoka wajib untuk kompeten untuk belajar dan berlatih untuk meningkatkan pengetahuan serta kemampuan sesuai dengan tingkatan yang disandangnya.Tingkatan atau title bukan hanya merupakan pencapaian melainkan juga merupakan tanggung jawab.
b.      Bertanggung jawab, seorang Budoka harus paham dengan yang tanggung jawab yang dibebankan pada mereka dan berusaha keras untuk memenuhi tanggung jawab  tersebut. Sebagai ahli waris yang sah dari tradisi Bushi maka tanggung jawab seorang Budoka pertama tama adalah menjaga dan menegakan harmoni di masyarakat secara universal.
c.       Dedikasi, untuk menjadi berdedikasi sorang Budoka wajib memiliki semangat berkorban. Berkorban untuk menjadi kompeten dan menjadi bertanggung jawab dengan jalan selalu mengevaluasi diri supaya tidak masuk ke dalam zona nyaman.

Minggu, 05 Februari 2017

Disclaimer

DISCLAIMER
Sehubungan kami lihat ada pihak - pihak yang tidak berkepentingan menggunakan nama Bujinkan atau Togakure Ryu atau nama Soke Masaaki Hatsumi demi kepentingan pribadi maupun golongan. Maka kami perlu mengeluarkan stateman ini.
Segala bentuk tulisan, terjemahan, saduran, gambar - gambar baik bergerak maupun tidak bergerak yang ada dalam media elektronik milik Bujinkan Indonesia atau Bujinkan Togakure Ryu Indonesia adalah hak kekayaan intelektual dari Bujinkan Dojo secara umum dan khususnya Bujinkan Indonesia serta affiliasinya dan dapat dikenakan penuntutan hukum bagi yang menggunakan tanpa ijin.
Bujinkan Indonesia tidak bertanggung jawab atas segala akibat penggunaan tanpa hak oleh pihak lain yang tidak terafiliasi dengan kami.

TTD

Pengurus Pusat Bujinkan Indonesia

Rabu, 09 November 2016

Atemi Tanren

Atemi No Tanren atau Atemi Tanren merupakan salah satu pelajaran dalam Bujinkan yang bersumber pada Koto Ryu Koppojutsu. Kalau anda sebagai orang luar atau mungkin siswa Bujinkan yang baru berniat mendalami Koto Ryu anda akan menemukan bahwa secara instruksional tertulis atemi no tanren adalah latihan memukul benda mati bisa makiwara, sansak untuk adaptasi modern atau benda alam seperti latihan dalam Shinden Fudo Ryu. Atemi adalah teknik memukul dengan tangan dan kaki bukan merujuk pada mekanik tubuh saja melainkan juga pada senjata pemukul atau bagian tubuh yang digunakan misal kento atau kepalan tangan yg dalam bujinkan populer disebut fudo ken. Tanren terdiri padi aksara Tan (鍛) yang berarti disiplin, menempa dan Ren (錬) yang berarti menjadikan suatu bentuk, menggubah. Dengan demikian Tanren bermakna latihan dengan menggunakan tubuh pikiran dan rasa untuk menjadikan suatu bentuk. Dalam hal Atemi Tanren maknanya adalah latihan atau menempa tubuh pikiran dan rasa agar memahami atemi atau alat memukul.
Merujuk diskripsi tersebut atemi tanren bukan semata - mata memukulkan tubuh pada suatu sasaran karena latihan memukul makiwara adalah pada level Kihon. Soke pernah mengatakan bahwa dasar dari semua Kihon adalah Kiso, bisa dikatakan jika Kihon adalah pondasi bangunan maka kiso adalah tanah dan urugan tanahnya. Apa yang disebut kiso ini adalah Ryutai Undo atau Latihan Tubuh Naga, Mokuso atau Meditasi, dan Kokyuho atau teknik pernapasan. Orang yang memahami kiso akan mendapatkan kihon yang baik.
Ganbatte
Bud Martadi

Selasa, 18 Oktober 2016

Takagi Yoshin Ryu

Gaya seni beladiri Takagi Yoshin Ryu diciptakan oleh Takagi Oriemon seorang samurai pada jaman Edo. Latar belakang berdirinya gaya ini adalah peristiwa pembunuhan terhadap ayahnya yaitu Takagi Sanzaemon yang tewas diserang pada malam hari. Sanzaemon adalah seorang ahli seni pedang pada Shiraishi domain. Setelah kematian ayahnya Takagi Oriemon berusaha keras untuk membalas dendam dan selalu menginggat ajaran sang ayah “ pohon willow memiliki sifat yang kuat sedangkan pohon tinggi (takagi) sifatnya lemah”
Pada tahun 1645 pada usia 16 tahun Oriemon berhasil menamatkan pelajaran Amatsu Tatara Rinpo Hiden dari Itto Kii No Kami yang merupakan penerus dari tradisi Amatsu Tatara yang diturunkan oleh praktisi Tao yang bernama Unryu. Berdasarkan Amatsu Tatara dan ajaran sang ayah Takagi Oriemon memformulasikan suatu gaya seni beladiri baru yang ia namai Takagi Yoshin Ryu.
Dalam perkembanganya Takagi Yoshin Ryu terpecah menjadi beberapa cabang silsilah dan salah satunya diwarisi oleh Masaaki Hatsumi Sensei.
Banyak yang mengenal Takagi Ryu sebagai Jutaijutsu atau jujutsu, namun sejatinya gaya Takagi juga meliputi seni persenjataan yaitu Iaijutsu dengan menggunakan daisho, tongkat pendek, tombak, nawanage, jutte dan sebagainya.